Ze Hai Zhen Ren

(Simplified)
(Traditional)

Ze Hai Zhen Ren [Cek Hay Cen Ren] dipuja dibeberapa klenteng di Jawa. Selain di klenteng Cek Hay Kung di Jalan Gurami Tegal, patungnya terdapat pula di klenteng Cin Tek Yen di Jakarta, Pekalongan (Klenteng Pao An Thian), Indramayu dan Semarang.

Khususnya di Semarang, Ze Hai Zhen Ren ( ) secara lazim disebut Guo Liuk Kwan [Kwee Lak Kwa], dipuja di klenteng milik keluarga Guo (Kwee) di Jalan Sebandaran (Klenteng Cek Hay Miaw – Kuil Penenang Samudera).

Guo Liuk Kwan digambarkan sebagai seorang Pejabat Tinggi yang berpakaian ala dinasti Han disertai dua orang pengiringnya. Salah satu dari dua pengiringnya itu, jelas seorang suku Jawa, dilihat dari corak pakaian dan ikat kepalanya.

Dari kisah yang beredar dari mulut ke mulut, disebutkan bahwa Guo Liuk Kwan adalah seorang utusan perdangangan Tiongkok yang datang ke Indonesia untuk melakukan kegiatan perekonomian. Oleh karena itu, ia sering melakukan perjalanan dari kota-kota di pesisir utara Jawa, yang dibantu oleh dua orang asistennya.

Suatu hari, dalam pelayarannya di sekitar pantai Tegal, beliau berhadapan dengan segerombolan bajak laut yang berusaha menaiki perahunya. Dengan wajah tenang, Guo meminta para pembajak bersabar, agar dia diperkenankan mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Guo bersama kedua pegawainya turun ke darat meninggalkan perahunya. Sekonyong-konyong angin bertiup dengan dahsyatnya, dan ombak menggulung lenyap perahu beserta para pembajak yang tidak sempat melarikan diri. Sejak itu Guo beserta kedua pengiringnya lenyap.

Tetapi orang-orang dari beberapa tempat mengaku pernah bertemu dia pada waktu yang bersamaan. Karena hal-hal itulah mereka percaya bahwa Guo sesungguhnya adalah seorang yang sakti. Sebenarnya Guo adalah seorang Tao yang telah mencapai taraf cukup tinggi.

Para peneliti beranggapan bahwa Guo Liuk Kwan mungkin adalah salah satu tokoh dalam pemberontakan melawan VOC pada tahun 1741-1742 yang dikenal dengan sebutan “Perang China”. Pasukan Tionghoa dipukul mundur oleh VOC lalu mundur ke Tegal. Dari Tegal mereka terus didesak. Dalam keadaan pasukan yang tercerai berai itulah Guo Liuk Kwan kemudian tidak tentu rimbanya.

Cerita lain mengatakan, bahwa Guo Liuk Kwan sempat tinggal di daerah Tegal, dia membantu rakyat setempat membangun daerah tersebut, dengan mengajarkan cara-cara bertani dan bernelayan. Pada masa tuanya, karena mengingat masa lalunya, beliau ingin mengenang kembali pelayarannya. Maka pada suatu hari ia pergi berlayar secara diam-diam dan kemudian tidak kembali lagi sejak itu.

Karena telah berjasa besar, masyarakat setempat menganggap beliau telah mendapatkan Tao-nya serta mencapai tingkat Cen Ren (Dewa), maka kemudian dibangunlah Cen Ren Miaw di Tegal untuk memuja dan mengenangnya.

Pada tahun 1837 bulan kedua Imlek seluruh bangunan diperbaiki dan direnovasi oleh Kapiten Tan Kun Hway dan sejak itu namanya berubah menjadi Cek Hay Kung. Salah satu klenteng Ze Hai Zhen Ren ( ) juga dibangun di Banjar oleh Tan Se Guan (putra Tan Kun Hway).

Selain itu untuk memperingati saat beliau pergi, setiap tahun dilakukan sebuah upacara untuk mengantar Ze Hai Zhen Ren ( ) ke pantai tempat dia pergi berlayar. Upacara sembahyangan tersebut dilakukan di pesisir pantai dengan menempatkan patung Ze Hai Zhen Ren ( ) menghadap ke arah laut.

Xuan Tian Shang Di

Xuan Tian Shang Di [Hian Thian Siang Te – Hokkian] adalah salah satu Dewa yang paling populer, wilayah pemujaannya sangat luas, dari Tiongkok utara sampai selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.

Pemujaan terhadap Xuan Tian Shang Di ( ) mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakannya, Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di pegunungan Wu Dang Shan (Bu Tong San – Hokkian], di propinsi Hubei, dalam sebuah kelenteng Shang Di Miao.

Berkat perlindungan Shang Di Gong (sebutan populer Xuan Tian Shang Di), Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya. Kemudian berkat bantuan Xuan Tian Shang Di ( ), maka Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongol dan menumbangkan Dinasti Yuan. Ia mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

Untuk mengenang jasa-jasa Xuan Tian Shang Di ( ) dan berterima kasih atas perlindungannya, ia lalu mendirikan kelenteng pemujaan di ibu kota Nanjing (Nanking) dan di gunung Wu Dang Shan.

Sejak itu Wu Dang Shan menjadi tempat suci bagi penganut Tao. Kelentengnya, dengan patung Xuan Tian Shang Di ( ) juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara. Tiap tahun tanggal 3 bulan 3 Imlek ditetapkan sebagai hari She-jietnya dan tanggal 9 bulan 9 Imlek adalah hari beliau mencapai kesempurnaan dan diadakan upacara sembahyangan besar-besaran pada hari itu.

Sejak itulah pemujaan Shang Di Gong meluas ke seluruh negeri, dan hampir setiap kota besar ada kelenteng yang memujanya.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, dan menjadi pusat pemujaan bersama rakyat dan tentara. Oleh sebab itu, maka kelenteng Shang Di Miao tersebar diberbagai tempat. Diantaranya yang terbesar adalah di Taiwan yang dibangun pada waktu Belanda berkuasa di Taiwan.

Setelah jatuhnya Zheng Cheng Gong, Dinasti Qing yang berkuasa mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebetulnya adalah seorang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengkikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng aliran Buddha tentang seorang jagal yang telah bertobat lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak itu dikatakan sebagai usus dan jeroan si jagal.

Pembangunan kelenteng-kelenteng Shang Di Miao sejak itu sangat berkurang. Pada masa Dinasti Wing ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu She Miao di Tainan. Tetapi sebetulnya kaisar-kaisar Qing sangat menghormati Xuan Tian Shang Di ( ), ini terbukti dengan dibangunnya kelenteng pemujaan khusus untuk Shang Di Gong di komplek kota terlarang, yaitu Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian dan satu lagi di Istana Persinggahan di Chengde.

Mengenai riwayat Xuan Tian Shang Di ( ) ini, seorang pengarang yang hidup pada akhir Dinasti Ming, Yu Xiang Tou telah menulis sebuah novel yang bersifat dongeng yang berjudul “Bei You Ji” atau “Catatan Perjalanan Ke Utara”.

Adapun ringkasan riwayat Xuan Tian Shang Di ( ) seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut adalah sebagai berikut:

Lahir pada keluarga Liu. Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti “Tumbuh Subur”. Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sajak dan membuat syair.

Kembali Liu Zhang Sheng menitis di dunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming. Karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat menggantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja di negeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun [Biauw Lok Thian Cun – Hokkian] datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan.

Titisan berikutnya adalah sebagai seorang putera raja di negeri Jing Luo Guo [Ceng Lok Kok – Hokkian] yang bernama Xuan Yuan Tai Zi.

Setelah melewati beberapa ujian dalam hidupnya, Xuan Yuan berhasil mencapai kesempurnaan dan menjadi Dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di ( ).

Tian Shang Sheng Mu


Tian Shang Sheng Mu [Thian Sang Sen Mu / Thian Siang Sing Bo] dikenal dengan sebutan Ma Zu [Mak Co] atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fujian, tepatnya di Pulau Mei Zhou [Meizhou] dekat Pu Tian. Nama aslinya Lin Mo Niang [Lim Bik Nio]. Ayahnya Lin Yuan pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di Propinsi Fujian.

Karena kehidupan yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebut diriNya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik. Lin Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian-long pertama, tanggal 23 bulan 3 Imlek, tahun A.D. 960.

Selama sebulan sejak dilahirkan, Ia tidak pernah menangis sama sekali. Sebab itulah sang ayah memberi nama Mo Niang kepadaNya. Huruf “mo” berarti diam.

Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun Ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan.

Kecuali belajar, Ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tua dan suka menolong tetangga-tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Sebab itu penduduk desa sangat menghormatiNya.

Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong-xi ke-4, tanggal 16 bulan 2 Imlek, bersama sang ayah, Ia berlayar. Tapi di tengah jalan perahunya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, Ia berusaha menolong sang ayah.

Tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa Ia tidak tewas tetapi “diangkat ke langit” bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Meizhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar musik yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi.

Pada tahun 1122 M, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi duta ke negeri Gaoli (Korea sekarang). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ada, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main.

Ia bertanya kepada para anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang ini. Ia lalu mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi Lin Mo Niang yang berasal dari Pulau Meizhou. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong.

Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar “Sun Ji Fu Ren” kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan bertuliskan “Sun-ji” yang berarti “pertolongan yang sangat dibutuhkan”, hasil tulisan tangan sang Kaisar sendiri lalu dipasang di kelenteng di Meizhou.

Sejak dari masa Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh kerajaan kepada Lin Mo Niang. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren (Nyonya Agung), Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Surgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit) dan Ma Zu Po (Bunda Ma Zu).

Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok timur yang memanjang dari utara ke selatan seperti Dandong, Yantai, Qinhuangdao, Tianjin, Shanghai, Ningpo, Hangzhou, Fuzhou, Xiamen, Guangzhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini.

Tian Shang Sheng Mu ( ) sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Meizhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, sebelum pelayaran dimulai akan diadakan sembahyang besar untuk memohon perlindunganNya. Pada tiap-tiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungNya.

Gelar “Tian Fei” dianugerahkan kepada Tian Shang Sheng Mu ( ) oleh Kaisar Yong Le.

Kira-kira pada masa Dinasti Ming, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk Propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu memasuki Pulau Taiwan. Kelenteng tertua Tian Shang Sheng Mu ( ) di Taiwan adalah terdapat di kota Magong, Kepulauan Penghu.

Dewasa ini di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah kelenteng Tian Shang Sheng Mu. Dan hampir dua per tiga penduduknya memuja arcaNya di dalam rumah. Kelenteng Tian Shang Sheng Mu ( ) yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin terbesar di Taiwan adalah di Beigang. Patung yang dipuja di sini berasal dari Meizhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar Kang Xi.

Gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan.

Tiap tahun bertepatan dengan hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk bersembahyang.

Tempat sembahyang Tian Shang Sheng Mu ( ), bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai tempat, juga bermunculan di banyak negeri. Di negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina dan lain-lain; dimana banyak bermukim para Tionghoa perantau banyak dijumpai kelenteng dan patung Tian Shang Sheng Mu ( ).

Di Jepang, pemujaan Tian Shang Sheng Mu ( ) diperkirakan mulai ada pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang yang dalam bahasa Tionghoa disebut Sui-hu, Tian Shang Sheng Mu ( ) telah dimasukkan dalam jajaran Dewata Jepang dan dipuja di kuil utama kota itu. Jepang terdapat tidak kurang dari 100 buah kuil Tian Shang Sheng Mu ( ).

Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafatnya Tian Shang Sheng Mu ( ) yang ke 1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di Mei-zhou.

Di antara khalayak yang berbondong-bondong itu terdapat beberapa ratus warga Taiwan yang mengkhususkan diri untuk hadir di situ, sekaligus melampiaskan keinginannya untuk mengunjungi dan bersembahyang ke kelenteng leluhur. Banyak di antara mereka yang membawa patung Tian Shang Sheng Mu ( ) dari Taiwan untuk disembahyangkan di sana, dalam upacara yang disebut “Tian Shang Sheng Mu ( ) pulang ke kampung halaman“.

Juga tidak sedikit yang membawa pulang patung-patung Tian Shang Sheng Mu (Tian1 Shang4 Sheng4 Mu3) yang disediakan oleh kelenteng Tian Shang Sheng Mu ( ) untuk dipuja di Taiwan. Dalam kesempatan itu juga diadakan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 60 orang ahli sejarah untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan Tian Shang Sheng Mu ( ).

Kemudian diadakan pula upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan patung peringatan untuk Tian Shang Sheng Mu ( ), dan pembukaan selubung untuk miniaturnya, di puncak bukit Mei-feng Shan di tengah pulau itu. Dua belas orang dari wakil-wakil perantau Tionghoa dari luar negeri, Taiwan, Hongkong dan Macao melakukan acara timbun tanah untuk pondasi patung tersebut.

Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun A.D. 1989, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu ( ), patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Shan menghadap ke Selat Taiwan.

Lu Ban Gong

(Simplified)
(Traditional)

Lu Ban Gong [Law Pan Kong], yang kadang dikenal sebagai Qiao Sheng Xian Shi (Guru Besar Pertukangan), hidup pada masa Musim Semi dan Musim Gugur di negara Lu.

Lu Ban Gong ( ) adalah seorang tukang yang mahir. Kemampuan banyak digunakan untuk membangun tempat-tempat yang mengagumkan. Meskipun begitu, Lu Ban Gong ( ) bukanlah orang kaya, dia hidup di rumah yang sangat sederhana.

Orang awam mungkin menganggap bahwa dengan ketrampilan yang ada, Lu Ban Gong ( ) dapat memperoleh kekayaan dengan mudah. Namun bagi dirinya, pengabdian kepada dunia pertukangan lebih memiliki peran daripada sekedar kekayaan.

Dia juga menemukan berbagai peralatan pertukangan, seperti gergaji, kapak, gerinda, dan bor yang banyak dipakai hingga sekarang.

Suatu ketika saat sedang bekerja, kakinya terluka oleh sejenis rumput. Setelah diperhatikan baik-baik, rumput itu ternyata bergerigi tajam. Dari titik itulah dia mendapatkan ide untuk membuat gergaji.

Berbagai karya besar dihasilkan, seperti pahatan burung bangau di puncak Gunung Tianmu, pahatan kura-kura darat dari batu di Danau Yan di daerah Timur Laut Tiongkok, dan elang kayu di Propinsi Ganshu. Bangunan-bangunan indah, jembatan megah dan banyak karya besar lainnya lahir dari tangan Lu Ban Gong ( ).

Kisah mengenai Lu Ban Gong ( ) diceritakan dari mulut ke mulut dan dari masa ke masa hingga saat ini.

Lu Ban Gong ( ) mengabdikan seluruh hidupnya dalam dunia pertukangan, dan meninggalkan berbagai penemuan serta ciptaannya bagi generasi berikutnya.

Bao Sheng Da Di

Bao Sheng Da Di disebut juga Da Dao Gong [Tao Too Kong], Hua Qiao Gong [Hoa Kio Kong], atau Wu Zhen Ren [Go Cin Jin] yang berarti Dewa Wu.

Ada dua pendapat yang sama-sama mempunyai dasar mengenai asal usul dari Bao Sheng Da Di ( ).

Pendapat pertama mengatakan bahwa Wu Zhen Ren memiliki nama asli Ben [Pun].

Wu Ben adalah seorang yang dilahirkan di desa Bai Jiao (Karang Putih), kabupaten Tong-an, wilayah Quan Zhou [Coan Ciu], propinsi Fujian. Ia lahir pada pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Xing Guo ke-empat bulan tiga tanggal 15 Imlek pada masa Dinasti Song.

Sejak masih kecil Wu Ben telah tertarik pada masalah pengobatan. Seorang pertapa, karena tertarik akan bakat anak ini, mengajarkan bermacam-macam ilmu pengobatan dan memberikan kitab yang berisi kumpulan obat-obat. Setelah dewasa, ia terkenal sebagai seorang tabib dewa. Ia pernah mengikuti ujian sastra dan lulus. Kemudian ia memangku jabatan sebagai Yu Shi, jabatan di istana yang mengurus pencatatan sejarah.

Nama Wu Ben menjadi terkenal setelah ia berhasil mengobati penyakit yang diderita permaisuri Kaisar Ren Zong.

Setelah mengundurkan diri, Wu Ben berkelana mengobati penyakit. Kemudian Wu Ben memiliki beberapa murid, antara lain Huang Yi Guan (Huang si Menteri Tabib), Cheng Zhen Ren (Cheng si Manusia Dewa) dan Yin Xian Gu (Yin si Dewi).

Rakyat, karena mengingat budi baik Wu Ben, banyak yang mendirikan kelenteng dan diberi nama Ci Ji Gong yang berarti “Kuil Penolong Yang Welas Asih”.

Para kaisar juga tidak ketinggalan menganugerahkan gelar kepadanya. Kaisar Song Gao Zong menganugerahkan gelar Da Dao Zhen Ren yang berarti “Dewa Jalan Nan Agung”. Gelar ini menyebabkan Bao Sheng Da Di ( ) terkenal dengan sebutan Da Dao Gong yang berarti “Paduka Jalan Nan Agung”.

Kaisar Song Ning Zong memberikan gelar kehormatan Zhong Xian Hou yang berarti “Pangeran Teladan Kesetiaan”. Kaisar Ming yang pertama, Ming Tai Zu, memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun [Ho Thian Gi Su It Leng Cin Kun] yang berarti “Dewa Sejati Ahli Pengobatan dan Menteri Pencatat Sejarah”.

Pendapat yang satu lagi mengatakan bahwa Bao Sheng Da Di ( ) adalah Wu Meng [Go Beng] yang hidup pada masa Dinasti Jin, penduduk asli dari Henan. Wu Meng sejak kecil terkenal karena baktinya kepada orang tua. Setelah dewasa ia berkelana dan melakukan pengobatan kepada penduduk yang tidak mampu. Kemudian ia dipanggil dengan nama Wu Zhen Jun [Go Cin Kun] yang berarti “Wu Si Dewa Sejati”.

Jika ditinjau dari sudut sejarah, maka Wu Meng lebih terkenal dari pada Wu Ben, sebab Wu Ben meskipun memiliki reputasi sebagai tabib yang hebat, tetapi ia hanya dipuja di sekitar propinsi Fujian saja. Namun jika ditinjau dari tempat asalnya, maka Wu Ben lebih mendekati kenyataan, karena Wu Ben di propinsi Fujian dipuja sebagai Bao Sheng Da Di.

Kuil Bao Sheng Da Di ( ) di propinsi Fujian yang terkenal terdapat di dusun Bai Jiao, tempat Wu Ben berasal. Di kuil itu terdapat papan yang dihadiahkan oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming.

Kisah-kisah kehebatan Wu Ben di kalangan rakyat memang banyak beredar, terutama di propinsi Fujian dan sekitarnya.

Diceritakan pada suatu hari, ia sampai di sebuah jalan pegunungan. Ia berjumpa 4 orang memanggul sebuah peti jenasah. Peti jenasah itu sangat sederhana, terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, menandakan bahwa keluarga si jenasah adalah keluarga yang melarat. Darah tampak mengalir dari celah-celah peti jenasah itu, menandakan bahwa orang dalam peti jenasah itu belum lama meninggal.

Wu Ben melihat hal itu lalu berpikir sebentar, ia yakin bahwa yang di dalam peti belum meninggal. Ia meminta iring-iringan tersebut berhenti dan bersedia membuka tutup peti mati itu. Seorang wanita terbaring di dalamnya dan usianya sekitar 30 tahun.

Sekilas Wu Ben mengetahui bahwa wanita itu baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan. Wu Ben meminta bantuan agar wanita tersebut diangkat keluar dari peti jenasah. Setelah dirawat dengan seksama akhirnya beberapa hari kemudian wanita yang sudah dianggap meninggal itu menjadi sehat kembali.

Kejadian ini tersebar dari mulut ke mulut dan meluas ke seluruh pelosok negeri. Semua menganggap bahwa Wu Ben dapat menghidupkan orang mati.

Ketenarannya sampai ke telinga Kaisar Ren Zong, yang sedang risau karena permaisurinya sedang sakit dan sudah banyak tabib tersohor yang didatangkan namun penyakit tidak kunjung sembuh. Tanpa memperdulikan jarak, Wu Ben datang ke istana untuk memenuhi panggilan kaisar.

Karena kebiasaan waktu itu yang melarang orang awam menyentuh tubuh kaisar atau keluarganya, maka Wu Ben memeriksa denyut nadi permaisuri dengan bantuan seutas tali sutera yang diikat pada pergelangan tangan sang permaisuri. Setelah yakin akan penyakit yang diderita sang permaisuri, Wu Ben menulis resep. Berkat obat itulah, tidak lama kemudian sang permaisuri sembuh kembali.

Ketika kaisar menanyakan hadiah apa yang diinginkannya, Wu Ben mengatakan bahwa ia ingin memakai jubah kebesaran yang pernah dipakai ayahnda kaisar. Kaisar Ren Zong mengabulkan permintaan tersebut.

Saat Wu Ben memakai jubah tersebut, Kaisar Ren Zong lalu berlutut. Wu Ben buru-buru mencegah dan menolak kehormatan itu.

Sejak itulah Wu Ben dikenal sebagai Bao Sheng Da Di ( ) atau Maharaja Pelindung Kehidupan.

Bersama dengan menyebarnya imigran dari Quan Zhou, pemujaan terhadap Bao Sheng Da Di ( ) tersebar ke Taiwan, lalu ke Asia Tenggara. Di Taiwan, karena imigran Quan Zhou banyak jumlahnya, maka kelenteng yang memuja Bao Sheng Da Di ( ) terdapat dimana-mana.

Yang tertua adalah yang didirikan pada masa Dinasti Ming, saat pemerintahan Kaisar Wan Li, yaitu Kaisar Kai Shan Gong [Khai San Kong]. Masih ada juga yang lebih besar yaitu Xing Ji Gong, Yuan He Gong, Liang Huang Gong, Fu Long Gong, Guang Ji Gong, Miao Shou Gong, dan lain-lain. Di Singapura pemujaan Bao Sheng Da Di ( ) terdapat di kelenteng Tian Fu Gong [Thian Hok Keng] di Telok Anyer Street.

Ba Xian (Delapan Dewa)

Ba Xian [Delapan Dewa / Pat Shien] adalah Dewa-Dewi Tao yang hidup pada masa yang berbeda dan dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka sering dilukiskan pada benda-benda porselen, patung, sulaman, lukisan dan sebagainya.

Dewa-Dewi Ba Xian menggambarkan kehidupan yang berbeda, yaitu Kemiskinan, Kekayaan, Kebangsawanan, Kejelataan, Kaum Tua, Kaum Muda, Kejantanan dan Kewanitaan.

Ba Xian dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan.

Kisah Ba Xian menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan, melalui tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Mereka adalah:

Kisah-Kisah Delapan Dewa: